Minggu, 17 Maret 2013

Semuanya Lengkap,Tapi Itulah yang Tak Terungkap

"Demi jas putih,akan ku kejar walau harus ke ujung pulau sumatera"
Kata itu masih segar berdesir di telinga ku,rasanya baru detik ini aku mengucapkannya,padahal tak terasa sudah 8 tahun berlalu,ketika aku masih di kota mati itu.

Padang,ya,itulah kota kelahiranku sekaligus kota mati ku,di sana aku bermimpi begini dan begitu,dan di sana pula lembar kenyataan terakhir akan ditutup.

Dari kecil aku berambisi menjadi seorang dokter,ketika SMA mimpi itu terasa semakin dekat dan bertambah.Tambahannya adalah mengubah sistem pelayanan kesehatan dan sistem pendidikan.Rasanya menarik sekali,tapi jalan yang akan aku tempuh untuk meraih mimpi itu bukan main berbahayanya.Jika dianalogikan mimpi itu adalah sebuah bintang,maka jalan yang aku tempuh adalah melintasi tujuh lapisan langit,hantaman meteor,belum lagi panasnya bintang tak akan bisa ku pegang dengan tangan kosong.Tapi inilah nafsu,nafsu muthmainnah atau tidak tapi tetap melambungkan angan ku,bertekad bahwa aku bisa menembus lapisan langit,menangkis meteor sekaligus menemukan sesuatu yang bisa membantuku untuk menahan panasnya bintang.

Ketika bintang (mimpi) itu berkelap-kelip dalam pejamnya tidurku,maka hasrat untuk mendapatkannya semakin kuat memeluk hatiku.Aku berlatih bagaimana terbang dan akhirnya usaha ku membuahkan hasil.Aku lulus di salah satu universitas paling ujung Indonesia dengan program studi pendidikan dokter.Ya,langit yang 7 telah berhasil ku tembus,aku bersiap-siap menentang beragam meteor yang akan menghantam.

Meteor pertama adalah beratnya perpisahan dengan keluarga,teman organisasi, sahabat dan orang itu.Aku benci dengan perpisahan.Ku tabahkan hati dan menyemangati diri bahwa aku sudah sampai sejauh ini maka tak ada waktu untuk kembali dan bertanya nasib.Perpisahan dan bayangan hidup sendiri di negeri orang mengahantui lambaian tangan di bandara.Tidak ada yang perlu aku takutkan,Allah selalu di hatiku.Aku pergi ma,pa,teman..............

Kuliah kedokteran yang ku inginkan memang sesulit yang ku bayangkan,namun lebih indah dari yang ku perkirakan.Sudah banyak meteor yang datang,menghujam kepala,menghantam pundak bahkan menimpa batinku.Semuanya berhasil ku kalahkan,kecuali perasaan pada orang itu.Tahun pertama,kedua,ketiga hingga saatnya di tahun ke lima aku berhasil meraih gelar S.Ked .

Wisuda kali itu semua teman-temanku memakai pakaian yang bagus,cantik, berdandan, dan sepertinya tinggi mereka bertambah karena sepatunya.Tetapi lihatlah penampilanku,hanya memakai baju yang biasa kukenakan ke kampus saat kuliah,rok yang telah berkali-kali ku jahit ulang karena benangnya lepas , dan sepatu tali yang malamnya ku cuci namun tidak sempat kering,masih basah.Kedua orang tuaku juga tak sempat hadir karena hari itu adalah hari pernikahan kakakku juga.Senyum,ya hanya itulah yang menyinari langkah ku,saat namaku disebutkan sebagai lulusan program studi pendidikan dokter sekaligus nama ayahku.

Itu adalah cerita 3 tahun yang lalu.Hari ini aku mamakai toga kembali,namun berbeda dari wisuda pertama itu,aku memakai kebaya dengan jilbab indah dan sepatu berbunga,keluarga ku hadir.Cita-cita ku tercapai,bintang yang panas itu dengan sendirinya dapat aku genggam.Gelar "dr" telah memandu namaku.Namun tinggal satu harapan,andai orang itu hadir di kehidupan ku lagi saat ini.Semuanya lengkap,tapi itulah yang tak terungkap.

"cerita ini hanyalah inspirasi di sore hari,tak ada unsur apa dan mengapa."



Senin, 04 Maret 2013

MUNGKINKAH GOLONGAN DARAH DAPAT DIGANTI?




Anda tentu memiliki golongan darah,bisa saja A,B,AB, atau O?Namun pernahkah anda membayangkan bahwa golongan darah anda bisa ditukar oleh seorang dokter dengan cara sederhana,ya,dengan bioteknologi.
            Hal ini dapat bermanfaat saat seseorang kehabisan darah karena sesuatu hal namun stok darah yang sesuai sudah habis.Namun,pihak lain dapat saja memanfaatkan hal ini untuk tindakan lain yang dapat merugikan.Dalam artikel yang dimuat jurnal Nature Biotechnology, tim peneliti internasional menjelaskan bagaimana mereka dapat mengubah darah dari tipe A, B atau AB menjadi darah tipe O.
Molekul gula sederhana pada permukaan sel darah merah yang disebut antigen menentukan golongan darah seseorang. Salah satu jenis antigen akan menentukan tipe darah A, sedangkan antigen lainnya menentukan golongan darah B, dan orang yang memiliki kedua jenis antigen memiliki golongan darah AB. Orang yang tidak memiliki antigen memiliki golongan darah O, dan jumlahnya sekitar 40 persen dari populasi.
Sistem kekebalan tubuh mengenali antigennya sendiri, tetapi menganggap antigen jenis lain sebagai penyusup asing. Itu sebabnya orang dengan golongan darah A tidak dapat menerima transfusi dari orang dengan golongan darah B. Sistem kekebalan tubuhnya akan menyerang darah baru sebagai benda asing, sehingga membuat penerima darah menjadi sakit parah. Karena golongan darah O tidak memiliki antigen, maka ia dapat diterima oleh sistem kekebalan tubuh orang dengan golongan darah A, B, dan AB.
Para peneliti yang dipimpin oleh Prof Henrik Clausen dari Universitas Kopenhagen memeriksa 2.500 jenis jamur dan bakteri untuk mencari protein yang bermanfaat. Setelah melalui pencarian panjang, diketahui dua jenis bakteri, yaitu Elizabethkingia meningosepticum dan Bacterioides fragilis, menghasilkan enzim yang mampu melepaskan antigen yang menentukan golongan darah A dan B dari sel darah.
"Ini proses yang cukup sederhana. Kendala utamanya adalah menemukan enzim yang tepat sehingga dapat melepas hanya satu molekul gula dan meninggalkan molekul lain pada permukaan sel tetap utuh," kata Prof Clausen seperti dilansir Boston.com, Senin (27/2/2012). Bacteroides fragilis akan menghilangkan antigen B, sedangkan Elizabethkingia meningosepticum dapat menghilangkan antigen A. Dengan metode ini, dokter dapat mengubah pasien yang memiliki golongan darah A, B, dan AB menjadi golongan darah O. Meskipun demikian, teknologi ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
              "Ini adalah teknologi yang baik karena dapat meningkatkan persediaan darah golongan O. Tapi pengubahan golongan darah tidak sesederhana yang dibayangkan. Faktanya adalah, ketika sel dimodifikasi, dapat menyebabkan risiko dan perubahan yang tidak diharapkan," kata Steve Sloan, direktur kedokteran transfusi anak di Boston Children 's Hospital. (
http://detik.net.id/health/image/lg.png)