Senin, 13 April 2015

Ayah, Aku Mencintainya (Surat Untuk Bung Hatta)



Salam hangat untuk-mu ayah. Perkenalkan,aku adalah anak bangsa dari salah satu sudut Indonesia. Tumbuh dan dewasa dalam rangkulan negri ini membuat hatiku begitu lekat, cinta dan berpadu dengan tanah merah putih . Kita tidak pernah berjumpa ayah, namun hari ini aku ingin bercerita dalam hati. Biarlah aku anggap kalimat-kalimat ini benar-benar keluar dari mulutku dan disambut oleh telinga-mu. Aku ingin ayah duduk bersama-ku dan mendengar segala keluh-kesah tentang negeri kita, ayah. Walau aku sadar semua itu tidak akan terjadi, karena ayah telah lama pergi meninggalkan aku, meninggalkan kami, seiring simpang siurnya problematika yang terjadi setelah itu.
            Aku bukan siapa-siapa ayah, Bukan anak bangsa yang kaya, bukan anak bangsa yang pintar, bukan pula jelita, hanya aku tahu bahwa dalam hati aku benar-benar mencintai negeri ini.  Negeri ini adalah salah satu alasan untukku agar terus hidup, bermimpi, dan mewujudkan cita-cita. Dengan bermodalkan cinta yang begitu besar, hari demi hari aku merangkai semangat bersama keping-keping ilmu yang aku dapat dari aktivitas kuliah. Berharap suatu saat rangkaian itu bisa bermanfaat, untuk kejayaan negeri ini. Hingga tiba saatnya nanti Indonesia bangga memiliki aku.
            Namun perjalanan itu masih jauh ayah. Aku lihat sang cita-cita masih tinggi menggantung di angkasa layaknya bintang-bintang. Ia tampak berkelap-kelip merayu memanggil aku untuk segera mewujudkannya. Seiring perjalanan panjang itu, negeri ini mulai berulah ayah. Harmonisnya negri ini kian pudar. Siapakah yang salah ayah? Ketika ribuan sahabatku putus sekolah, ketika ribuan adik-adikku kelaparan karena ayah-ibunya tak mampu memberi makan, ketika pemimpin-pemimpin ku tertawa berbedak gincu uang hasil korupsi, ketika ibu-ibu ku dianiaya saat mencari nafkah di luar negri, dan ketika martabat negri ku diinjak-injak bangsa lain.
            Ayah, semakin hari negeri ini semakin porak poranda. Biaya sekolah yang mahal membuat ribuan saudaraku tak mampu meneruskan pendidikannya. Akhirnya mereka lebih memilih mencari uang. Hatiku semakin teriris, gamang menapaki langkahku menuju cita-cita sementara sahabat-sahabatku menyerah di tengah jalan. Bagaimana seandainya aku tak mampu mewujudkan cita-cita itu sendiri ayah? Aku butuh sahabat-sahabat di sampingku, namun apa daya keterbatasan mengharuskan mereka berhenti. Ayah, aku takut, benar-benar takut akan masa depan negeri kita.
            Ayah , bahkan adik-adikku sering berteriak menanggung lapar. Ayah-ibunya tak dapat memberi mereka makan. Apa yang salah dari negeri kita sehingga tak mampu lagi menyediakan kebutuhan sekedar makan. Setahuku negeri kita subur ayah, lalu kenapa saat ini bahan makanan mahal? Petani terkatung-katung, kian terjepit, terinjak dan miskin.  Kemana perginya semua yang dulu pernah kita punya ayah? Sehingga adik-adikku tak lagi lapar. Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan senyuman mereka?
            Aduhai ayahanda. Lihatlah pemimpin-pemimpin ku yang sejahtera di gedung megah sana. Katanya mereka akan membawa negeri kita pada kesejahteraan. Janji-janji yang mereka ucapkan bagai ribuan kelopak bunga yang beterbangan di musim gugur, namun pada kenyataannya kelopak-kelopak bunga itu jatuh dari kepal tangan mereka di atas pusara penderitaan negeri kita. Korupsi, kebohongan, posisi, dan berbagai hal lain yang mereka lakukan hanya demi menyenangkan diri mereka sendiri. Menggunakan hak rakyat, hak sahabat-sahabatku,dan hak adik-adikku. Mereka yang seharusnya melindungi kami namun pada akhirnya mereka pula lah yang mencekik leher kami. Tidak ada lagi sosok seperti-mu dulu ayah. Jauh, jauh sekali jika aku boleh membandingkan. Buruk, buruk sekali jika aku boleh menyandingkan. Kecewa, kecewa sekali jika aku boleh mengutarakan. Ayah, aku takut jika nanti aku juga akan seperti mereka. Tidak kan ayah? Beritahu aku ayah, beritahu aku kalau nanti aku tidak akan tega seperti itu pada negeri kita.
            Mari kita coba lihat keluar sana ayah. Di negeri lain bahkan ibu-ibuku dianiaya saat bekerja. Sebegitu rendahnya kah negeri kita? Sehingga menjadi pelayan bangsa lain. Sudut-sudut lapangan pekerjaan sudah tidak mampu lagi menafkahi bangsa kita.Hingga ibu-ibu ku harus rela dianiaya, dilecehkan, bahkan dibunuh. Tidak hanya itu, bahkan aset kebudayaan kita juga telah banyak dirampas bangsa lain. Seenaknya saja mereka berbuat terhadap kita, ayah. Bantu aku mengembalikan martabat negri ini, apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki pandangan mereka pada kita ayah?  Ini sama halnya kita telah dijajah kembali,dijajah pelan-pelan.
            Tapi ayah, aku bersama sahabat-sahabat ku yang masih tersisa akan terus memperjuangkan negeri kita hingga titik darah penghabisan. Aku akan melanjutkan cita-cita bangsa yang tertunda,  melanjutkan mimpi sahabat-sahabatku, mengembalikan senyuman adik-adikku, meningkatkan kesejahteraan ayah-ibuku, dan semoga aku pun mampu mengembalikan martabat negeri kita, tanpa harus mengikuti jejak muslihat pemimpin-pemimpinku saat ini.
            Aku tahu jalan ini panjang , berliku, dan berduri. Berat benar ayah, berat benar beban yang ditanggungkan negeri ini padaku. Namun itulah alasan kenapa negeri ini memiliki aku. Tak apa ayah, aku akan berusaha lebih dari apa yang aku bisa dan melampaui keterbatasan.  Layaknya cinta, ia akan berbuat apa saja demi objek yang dicintainya. Sampaikan pada negeri kita ayah, aku sangat mencintainya.