Minggu, 15 Juni 2014

Untuk Bulan

Pernahkah kau disiksa oleh rasa rindu?
Hei, kenapa tidak dijawab?
itu pertanyaan!

Sudah tiga hari berturut-turut badai  menutupi sinarmu. Sinarmu yang indah, tahukah? ku nanti setiap malam datang.Aku selalu girang ketika matahari berjalan mundur dari timur ke barat sambil melambaikan tangan padaku.Itu pertanda bahwa aku akan segera bersua denganmu lagi.Tapi terkadang malah kau tak muncul! itu tega!

Barangkali aku satu-satunya manusia yang pernah berbicara seperti ini padamu.Meskipun Neil Amstrong sudah pernah berkunjung, tapi ku yakin sebelumnya ia tak pernah komunikasi denganmu.Aku tak peduli dengan kata-kata orang. Inilah hal paling gila yang pernah aku lakukan.Membuka hati untuk berbicara dengan bulan.Atau mungkin yang lebih tepatnya memaksa bulan memasang telinga untuk mendengarkan aku bercerita.Tapi, inilah kesenanganku, berinteraksi denganmu.

Malam ini, karna kau tak kunjung mencuat dari jendela langit hitam.Maka ku coba menitip surat pada angin yang menyambar kain gorden jendela.Dalam surat itu,aku bertanya padamu mengenai rindu.Kau pernah merasakan? aku pernah,dan sekarang lagi ku rasakan.Atau kau malah belum kenal apa itu rindu? Mari ku perkenalkan,pada paman rindu yang setia mengisi relung cinta setiap manusia. Rindu itu rasa. Itu saja yang ku tahu, meski aku kenal lekat dengannya,tapi hingga kini aku masih belum mampu menerjemahkannya dengan kata-kata.Namun satu yang pasti, bahwa ia adalah salah satu prasyarat dari sebuah cinta. Jika tidak rindu, maka itu bukan cinta.

Mengenai rinduku. Ini rindu pada seseorang.Tapi berbeda, kali ini bukan rindu sebagai prasayarat sebuah cinta.Rindu ini memutar kembali cerita hari-hari ku ketika bersamanya. Kau tahu? hari bersamanya itu seindah sinarmu.Ya, kali ini berani ku katakan bahwa sinarmu telah terduakan oleh hari bersamanya.Aku masih sulit menerjemahkan aksara yang rindu itu antarkan.Seperti istilah yang aku dapat dari seseorang,aku menempatkannya pada predikat "yang selalu ada". Namun jika ia adalah orang yang selalu ada, apalagi alasan untuk merindukannya?.Pasti kau bertanya demikian kan? sambil mencolek dan mengerlingkan mata memaksaku untuk mengakui bahwa ini adalah prasyarat dari cinta.Dengan tegas ku katakan tidak! kau salah besar bulan! kau hanya belum tahu saja siapa yang ku maksud. Jawabannya adalah tiba-tiba orang yang selalu ada menjadi orang yang sering tidak ada.Mungkin itu alasannya.

Oh iya, aku baru menyadari bahwa ia selalu seirama denganmu.Seperti hari ini,kalian sama-sama tidak muncul.Padamu,mungkin aku bisa menulis surat dan dititipkan pada angin yang menyambar kain gorden jendela,tapi padanya? kepada siapakah gerangan bisa dititipkan?
Sudahlah mungkin itu pertanyaan yang tidak ada jawaban.Tak perlu pula kau pikirkan,sekarang pikirkan saja bagaimana kau merangkai kata untuk membalas suratku.
Orang yang barusan aku ceritakan dan masih saja ku rindukan, kau akan tahu siapa dia setelah membaca suratku.Di sana telah ku lukis namanya.Satu permintaanku, agar kau sudi mewarnai lukisan itu dengan cahaya,lalu kirimkan lagi bersama surat balasan.Untuk ku pajang di dinding kamar,sebagai obat jika rindu ini tak kunjung reda di hari berikutnya.

Untuk Bulan, 14 Juni 2014.

Senin, 02 Juni 2014

43 Hari Menjelang 19 Tahun Perjalanan Istimewa

43 Hari sebelum ulang tahun...

Ingin menceritakan tentang kisah jalannya warna-warni kehidupanku.
Tidak terasa,43 hari lagi akan memasuki umur 19 tahun.Jika dibilang masih anak-anak,tentu saja tidak,atau dibilang terlalu tua apalagi.Inilah umur di mana dapat mengepakkan sayap bebas kemana saja.Ketika masih energik melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Tapi mencoba melihat ke belakang,apa saja yang sudah pernah dilakukan?bermanfaat atau tidak?

Nah...
Mulai dari terlahir sebagai anak ketiga dari tiga orang bersaudara.Termasuk anak manja yang maunya dilindungi abang dan kakaknya.Menginginkan semua yang diingnkan terwujud.Tapi untung saja punya orang tua yang tegas,sehingga tak bisa bersikap semena-mena sebagai anak bungsu.
Sebelum memasuki taman kanak-kanak,sudah terdaftar sebagai santri di TPA mesjid dekat rumah.Pintar? ya mungkin saja.Di taman kanak-kanak juga selalu menjadi yang terdepan.Maklum saja,situasinya saat itu sebagai anak dari pengurus sekolah.Ya kalau dalam bahasa kekinian itu seperti "Suka-suka gue mau ngapain,ni sekolah kan punya gue".Tapi di sini bukan sebagai anak yang antagonis kok,bahkan penyayang dan sering membujuk teman-teman yang menangis.(Assik)

Yap,mulai memasuki sekolah dasar,tetap memegang yang namanya top three kelas.Kalau ga satu ya dua,atau tiga.Sempat menjadi ketua kelas,menjadi orang kepercayaan dari guru untuk memegang kunci lemarinya.Serta mengikuti les pianika dan perwakilan atlet olahraga catur untuk seleksi O2SN.Oiya,juga merupakan seorang dokter kecil di sekolah.Di luar sekolah sempat juga menjadi anak sanggar tari alang babega dan berpengalaman shooting perdana (Iyyyhhha)
Ketika memasuki SMP,nah disini pergolakan mulai terjadi.Di awal masuk terjadi masalah karena tidak suka dengan teman sebangku.Akhirnya orangtua direpotkan dengan mengurus pindah kelas.(Malu-maluin)

Namun ketika suhu sudah sama dengan teman-teman,maka mulai aktif lagi sebagai salah satu anggota marcing band sekolah.Di masa ini juga berawal sebagai "anak karate".Berlatih di dojo SMPN 30 Padang dan SMPN 11 Padang.Hal inilah yang menjadikan saya sebagai anak yang sedikit tomboy dan bertekad kuat.
Contohnya,ketika diutus sebagai atlet karate untuk seleksi O2SN bertepatan saat itu terkena tumor kecil di mata.Ada secuil daging yang keluar di bagian bawah mata.Membuat hal itu menghalangi pemandangan.Namun apapun yang terjadi,"show must go on"...Tetap sukses memainkan kata "Ji-on".
Penyakit di mata yang mengharuskan menjalani operasi mata sebanyak dua kali ini juga mengubah penampilan sebagai seorang anak bermata empat,karena mata kanan sudah terganggu.Namun untuk pertama kalinya tersadar bahwa nikmat mata itu besar sekali.Penyakit ini memberinya pelajaran dengan mata yang harus ditutupi perban selama satu minggu.Dan itu rasanya sangat tidak enak sekali.

Ketika memasuki SMA,di sini lah mulai tersesat di jalan yang benar.Entah mengapa tertarik dengan ekskul Rohis.Bertemu dengan si jilbab lebar dan jenggot tipis yang luar biasa.Mengenalkan pada dunia organisasi dan dunia da'wah sekolah.Tidak hanya aktif di dunia kerohanian,namun juga aktif di bidang lain seperti karate, Japanese club, basket ball, dan OSIS.Di masa ini pula tertarik dengan bahasa mandarin,dan dengan perjuangan yang super berat akhirnya mampu menguasai meski kelancarannya masih di bawah bahasa inggris.Aktif di dalam dan luar sekolah membuat terlatih untuk sibuk.(sok sibuk).

Hingga akhirnya kuliah di Universitas Andalas.Belum banyak yang bisa dilakukan dan diceritakan selama di Universitas Andalas.Hanya masih melangkah belum terlalu jauh.Namun yang pasti,ingin berbuat sesuatu yang bisa membanggakan orang tua dan berbakti pada kampus tercinta.

Bagaimana pun semuanya adalah masa lalu,
Berterimakasih pada seluruh orang yang hadir mengisi hari-hari di masa itu.
19 Tahun Perjalanan Istimewa