Salam hangat untuk-mu ayah.
Perkenalkan,aku adalah anak bangsa dari salah satu sudut Indonesia. Tumbuh dan
dewasa dalam rangkulan negri ini membuat hatiku begitu lekat, cinta dan berpadu
dengan tanah merah putih . Kita tidak pernah berjumpa ayah, namun hari ini aku
ingin bercerita dalam hati. Biarlah aku anggap kalimat-kalimat ini benar-benar
keluar dari mulutku dan disambut oleh telinga-mu. Aku ingin ayah duduk
bersama-ku dan mendengar segala keluh-kesah tentang negeri kita, ayah. Walau
aku sadar semua itu tidak akan terjadi, karena ayah telah lama pergi
meninggalkan aku, meninggalkan kami, seiring simpang siurnya problematika yang
terjadi setelah itu.
Aku
bukan siapa-siapa ayah, Bukan anak bangsa yang kaya, bukan anak bangsa yang
pintar, bukan pula jelita, hanya aku tahu bahwa dalam hati aku benar-benar
mencintai negeri ini. Negeri ini adalah
salah satu alasan untukku agar terus hidup, bermimpi, dan mewujudkan cita-cita.
Dengan bermodalkan cinta yang begitu besar, hari demi hari aku merangkai
semangat bersama keping-keping ilmu yang aku dapat dari aktivitas kuliah.
Berharap suatu saat rangkaian itu bisa bermanfaat, untuk kejayaan negeri ini.
Hingga tiba saatnya nanti Indonesia bangga memiliki aku.
Namun
perjalanan itu masih jauh ayah. Aku lihat sang cita-cita masih tinggi
menggantung di angkasa layaknya bintang-bintang. Ia tampak berkelap-kelip
merayu memanggil aku untuk segera mewujudkannya. Seiring perjalanan panjang
itu, negeri ini mulai berulah ayah. Harmonisnya negri ini kian pudar. Siapakah
yang salah ayah? Ketika ribuan sahabatku putus sekolah, ketika ribuan
adik-adikku kelaparan karena ayah-ibunya tak mampu memberi makan, ketika
pemimpin-pemimpin ku tertawa berbedak gincu uang hasil korupsi, ketika ibu-ibu
ku dianiaya saat mencari nafkah di luar negri, dan ketika martabat negri ku
diinjak-injak bangsa lain.
Ayah,
semakin hari negeri ini semakin porak poranda. Biaya sekolah yang mahal membuat
ribuan saudaraku tak mampu meneruskan pendidikannya. Akhirnya mereka lebih memilih
mencari uang. Hatiku semakin teriris, gamang menapaki langkahku menuju
cita-cita sementara sahabat-sahabatku menyerah di tengah jalan. Bagaimana
seandainya aku tak mampu mewujudkan cita-cita itu sendiri ayah? Aku butuh
sahabat-sahabat di sampingku, namun apa daya keterbatasan mengharuskan mereka
berhenti. Ayah, aku takut, benar-benar takut akan masa depan negeri kita.
Ayah
, bahkan adik-adikku sering berteriak menanggung lapar. Ayah-ibunya tak dapat
memberi mereka makan. Apa yang salah dari negeri kita sehingga tak mampu lagi
menyediakan kebutuhan sekedar makan. Setahuku negeri kita subur ayah, lalu
kenapa saat ini bahan makanan mahal? Petani terkatung-katung, kian terjepit,
terinjak dan miskin. Kemana perginya
semua yang dulu pernah kita punya ayah? Sehingga adik-adikku tak lagi lapar.
Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan senyuman mereka?
Aduhai
ayahanda. Lihatlah pemimpin-pemimpin ku yang sejahtera di gedung megah sana.
Katanya mereka akan membawa negeri kita pada kesejahteraan. Janji-janji yang
mereka ucapkan bagai ribuan kelopak bunga yang beterbangan di musim gugur,
namun pada kenyataannya kelopak-kelopak bunga itu jatuh dari kepal tangan
mereka di atas pusara penderitaan negeri kita. Korupsi, kebohongan, posisi, dan
berbagai hal lain yang mereka lakukan hanya demi menyenangkan diri mereka
sendiri. Menggunakan hak rakyat, hak sahabat-sahabatku,dan hak adik-adikku.
Mereka yang seharusnya melindungi kami namun pada akhirnya mereka pula lah yang
mencekik leher kami. Tidak ada lagi sosok seperti-mu dulu ayah. Jauh, jauh
sekali jika aku boleh membandingkan. Buruk, buruk sekali jika aku boleh
menyandingkan. Kecewa, kecewa sekali jika aku boleh mengutarakan. Ayah, aku
takut jika nanti aku juga akan seperti mereka. Tidak kan ayah? Beritahu aku
ayah, beritahu aku kalau nanti aku tidak akan tega seperti itu pada negeri
kita.
Mari
kita coba lihat keluar sana ayah. Di negeri lain bahkan ibu-ibuku dianiaya saat
bekerja. Sebegitu rendahnya kah negeri kita? Sehingga menjadi pelayan bangsa
lain. Sudut-sudut lapangan pekerjaan sudah tidak mampu lagi menafkahi bangsa
kita.Hingga ibu-ibu ku harus rela dianiaya, dilecehkan, bahkan dibunuh. Tidak
hanya itu, bahkan aset kebudayaan kita juga telah banyak dirampas bangsa lain.
Seenaknya saja mereka berbuat terhadap kita, ayah. Bantu aku mengembalikan
martabat negri ini, apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki pandangan
mereka pada kita ayah? Ini sama halnya
kita telah dijajah kembali,dijajah pelan-pelan.
Tapi
ayah, aku bersama sahabat-sahabat ku yang masih tersisa akan terus
memperjuangkan negeri kita hingga titik darah penghabisan. Aku akan melanjutkan
cita-cita bangsa yang tertunda,
melanjutkan mimpi sahabat-sahabatku, mengembalikan senyuman adik-adikku,
meningkatkan kesejahteraan ayah-ibuku, dan semoga aku pun mampu mengembalikan
martabat negeri kita, tanpa harus mengikuti jejak muslihat pemimpin-pemimpinku
saat ini.
Aku
tahu jalan ini panjang , berliku, dan berduri. Berat benar ayah, berat benar
beban yang ditanggungkan negeri ini padaku. Namun itulah alasan kenapa negeri
ini memiliki aku. Tak apa ayah, aku akan berusaha lebih dari apa yang aku bisa
dan melampaui keterbatasan. Layaknya
cinta, ia akan berbuat apa saja demi objek yang dicintainya. Sampaikan pada
negeri kita ayah, aku sangat mencintainya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar