Sabtu, 12 April 2014

Dilema Sang Penyu (Antara Mitos dan Fakta)

"Talua asiinnn...talua asin talua katuanggg"
siapa yang pernah mendengar suara ini? Ini suara yang khas sekali bagi masyarakat Marapalam Indah dan sekitarnya.
Hayoooo si bapak setiap malam lewat di gang-gang rumah lingkungan tempat saya tinggal.Suaranya lantang sekali menjajakan "talua asin dan talua katuang" dagangannya.
Beberapa kali saya juga pernah membelinya.Ya,"talua katuang" itu enak.Istilah yang tepat kalau orang minang itu menyebutnya "kamek banaaa".
Kata masyarakat sekitar kotaku,"talua katuang" itu banyak khasiatnya.Mulai dari kandungan protein yang tinggi,rasanya lezat serta meningkatkan nafsu makan.
Hal ini yang membuat masyarakat tak gentar mengonsumsi "talua katuang" ini.Meskipun harga yang tinggi jauh meninggalkan harga telur ayam dan telur itik.

Tapi sebelumnya ada yang tak tahukah dengan yang kusebut "talua katuang" ? Talua katuang adalah telur penyu,katuang adalah sebutan untuk penyu hijau ( Chelonia mydas ) salah satu dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia.

Dua minggu yang lalu,aku melakukan perjalanan luar biasa ke Pariaman tepatnya UPT Konservasi Penyu Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman.Banyak hal yang aku temui di sana,mulai dari menonton video kehidupan penyu dari menetas hingga bertelur dan kembali lagi ke laut.Juga melihat tempat inkubasi telur penyu,tukik-tukik yang imut hingga kakek-kakek penyu yang tua renta dari berbagai spesies telah kutemui di sana.

Rekan-rekan readers....apa yang selama ini aku dengar dari bisik-bisik masyarakat kotaku berbanding terbalik dengan apa yang aku temukan di lapangan ketika itu.Informasi valid bersumber terpercaya berkebalikan dengan yang aku ketahui selama ini.Tak ada yang baik dari telur penyu.Protein yang selama ini mereka sebut-sebut hanyalah mitos belaka,yang ada hanyalah kolesterol teramat tinggi terkandung dalam telur penyu yang leazat.

Adapun di balik itu semua penyu tengah terancam keberadaannya.Mulai dari ketika ia menetas tak sedikit bahaya yang ia hadapi.Tubuh mungilnya harus mengarungi lautan,meskipun hanya baru beberapa saat ia menetas.Bahaya apakah yang tak akan datang padanya yang tidak punya proteksi yang dapat menjamin keselamatan ia mengarungi samudra.Ikan-ikan predator besar siap menerkamnya kapan saja.Si tukik kecil yang tegar mampu bebas dari seleksi alam tumbuh menjadi penyu dewasa yang akhirnya menemukan pasangan hidup.Hal itu membuatnya bertelur,dan harus kembali ke pantai untuk menitipkan telur-telur generasi harapannya.Namun tahukah? berapa lama waktu yang ia butuhkan dari hanya seekor tukik hingga menjadi ibu tukik? 30 tahun! dan selama 30 tahun itulah ia mengembara di lautan luas.

Perjuangan si penyu tak cukup sampai di sana.Saat mengantarkan telurnya ke daratan bahaya lain pun mengintai.Datang dari makhluk darat,makhluk paling sempurna diciptakan Tuhan-Nya.Ya, manusia. Manusia mengintai si penyu dan telurnya.Selesai bertelur si penyu yang malang ditangkap dan telurnya diambil.Keduanya sama-sama dikonsumsi manusia.Ibu penyu dibuat menjadi makanan yang lezat dan telur penyu juga dijadikan makanan yang lezat.

Enak? ya tentu saja.
Readers, WWF (World Wildlife Fund) memberitakan bahwa telur penyu memiliki kandungan kolesterol 20 kali lipat dibandingkan telur ayam.Protein yang ada padanya tak lebih banyak dari protein telur ayam juga.Selain itu,telur penyu menyuguhkan senyawa beracun yang disebut PCB (Polychlorinated biphenyl) (sumber : jurnal ilmiah Environmental Health Perspective di tahun 2009, yang berjudul ‘Dangerous Delicacy’ – Contaminated Sea Turtle Eggs Pose A Potential Health Threat).Senyawa ini tergolong logam berat yang memicu penyakit kanker,kerusakan sistem syaraf dan gangguan hormon.Kandungan senyawa ini pada telur penyu relatif tinggi yaitu 300 kali lipat di atas batas aman konsumsi yang ditetapkan WHO.PCB juga adalah salah satu senyawa yang dilarang kongres AS sejak 1979 setelah tragedi cacat lahir dan berbagai jenis kanker.
Nah itu baru bahaya personal hanya untuk individu yang mengonsumsi.Ada bahaya lain,yaitu peran penyu sebagai penyeimbang ekosistem alam sangatlah penting.Penyu memakan alga yang tumbuh di terumbu karang.Bila penyu punah maka pertumbuhan alga jadi pesat dan memenuhi terumbu karang.Sehingga terumbu karang jadi sakit,padahal terumbu karang adalah tempat ikan bertelur dan mencari makan.Jadi terancamnya populasi penyu secara tidak langsung akan mengancam populasi ikan di lautan juga.Nah kalau populasi ikan sudah terancam nelayan mau menangkap apa? dan rentetan imbasnya akan panjang sekali hanya karena nafsu kelezatan telur penyu saja.

Mengonsumsi telur penyu juga berarti melanggar peraturan pemerintah,karena penyu termasuk satwa yang dilindungi.Undang-undang terkait adalah UU no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.UU no 31 tahun 2004 tentang perikanan.Keputusan Presiden no 43 tahun 1978 tentang CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).Serta menciderai kesepakatan konservasi dan perlindungan penyu ASEAN tanggal 12 September 1997 di Thailand dan nota kesepahaman penyu laut kawasan samudra Hindia dan Asia Tenggara tahun 2001.

Apabila dikaitkan dengan aturan agama,memang dalam agama Islam Allah menghalalkan segala binatang buruan laut baik yang ditemukan dalam keadaan hidup maupun mati dalam surat Al-Maidah ayat 96.
"Dihalalkan bagimu binatang buruan laut (yang ditemukan dalam keadaan hidup) dan yang ditemukan dalam keadaan bangkai sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan".
Namun,pada ayat lainnya bahwa segala hewan yang berdampak bahaya jika dikonsumsi tidak boleh dimakan.Hal ini dikatakan dalam QS An-nisa ayat 29 : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Serta dalam QS Al-Baqarah 195 : “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”Kesimpulannya,menurut agama Islam hewan laut itu halal kecuali katak dan hewan lain yang berdampak bahaya jika dikonsumsi.Serta menurut mazhab hanafiyah,Hewan yang hidup di dua alam tidak halal sama sekali,karena hewan air yang halal hanyalah ikan (Al-ath'imah hal 91-92).Mengingat efek dan kandungan pada penyu serta posisi penyu sebagai hewan amfibi (hidup di dua alam) yang telah disebutkan di atas,setelah diketahui bahayanya maka untuk antisipasi resiko sebaiknya tidak dikonsumsi.Untuk hal ini Wallahu'alam bish showab.

Akhirnya,masih ada alasan lainkah untuk mengonsumsi daging maupun telur penyu? tayakan lagi pada hati dan pribadi kita masing-masing.Jika alasan-alasan di atas tak cukup kuat untuk melumpuhkan langkah kita untuk tetap mengonsumsi daging dan telur penyu,maka cobalah kembali pada hati nurani,tak kasihankah melihat perjuangan hidup penyu??
Semoga bermanfaat!

Tempat inkubasi telur penyu :

 Tukik (bayi penyu) :


Peringataaaan!!!!!!!!


Semoga bermanfaat !


Terimakasih kepada : Earth Hour Padang (Atas perjalanan yang luar biasa ini)

dan Forum Indonesia Muda Sumatera Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar