Kamis, 14 Agustus 2014

Cepatnya Penggantian Kurikulum Pendidikan,Efektifkah?

Tren terkini dari dunia pendidikan adalah tentang kurikulum 2013.Banyak pro dan kontra menyelimuti awal-awal peluncuran kurikulum ini.Kurikulum 2013 adalah sistem pendidikan terbaru yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan setelah sebelumnya dilaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai 2006 lalu.Nama lainnya adalah kurikulum berbasis karakter.Sesuai dengan nama tersebut,ada hal baru yang ditawarkan kurikulum ini yaitu peserta didik dituntut paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.

Namun rasanya terlalu cepat dunia pendidikan mengalami penggantian kurikulum.KTSP 2006 bahkan masih berada dalam tahap uji coba dan diketahui bahwa masih ada sekolah-sekolah yang belum melaksanakannya.Ini mungkin pertimbangan pertama untuk meragukan pelaksanaan kurikulum baru.Indonesia bukan negara yang kecil, bukan negara yang ada dalam satu kesatuan daratan, masih banyak pelosok yang tidak 100% terjamah oleh pemerintah.Akhirnya banyak sekolah yang keteteran dalam mengikuti kecepatan pertukaran kurikulum.Pertanyaannya, tidak bisakah tuntutan untuk peserta didik yang telah disebutkan di atas ditambahkan saja untuk penyempurnaan KTSP 2006?

Berikutnya,setiap pergantian kurikulum mengakibatkan bergantinya pula model buku sebagai sarana belajar-mengajar.Pelaku pendidikan menyimpulkan bahwa buku yang berbeda kurikulumnya tidak dapat dipakai lagi pada kurikulum sekarang karena sudah tidak sesuai.Akhirnya semua harus membeli buku baru.Barangkali konten dalam buku tersebut tidak jauh berbeda dari buku di kurikulum sebelumnya.Hal ini mengakibatkan tidak efektifnya penggunaan anggaran pendidikan, tidak sedikit yang digunakan dalam percetakan buku-buku baru.Ini adalah dunia pendidikan, kunci yang menentukan kualitas bangsa Indonesia.Hendaknya dilaksanakan tanpa ada hal-hal yang dilakukan untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Jika  kurikulum pendidikan harus berubah untuk terus menuju pada pendidikan Indonesia yang lebih baik tentu sangat didukung untuk dilaksanakan.Namun jika ia hanya berubah tanpa adanya perbaikan yang dapat mempengaruhi  pendidikan tentu terasa sangat percuma.Hendaknya kurikulum yang baru dicanangkan berdasarkan hasil evaluasi kurikulum yang lama.Agar perbaikan demi perbaikan selalu ada.Namun,faktanya kurikulum 2013 tidak berdasarkan evaluasi dari KTSP 2006.Apalagi dalam perancangannya tidak dilibatkan guru sebagai sosok utama yang akan bersentuhan langsung dengan peserta didik.Hal ini akan membuat kebingungan guru dalam melaksanakan proses mengajar.

Perbaikan dalam sistem pendidikan di Indonesia tentu akan selalu didukung dalam pelaksanaannya.Namun alangkah lebih baik jika sistem pendidikan yang ada lalu diperbaiki keseriusan dalam prosesnya.Barangkali akan lebih efektif.Juga pemerataan jangkauan pelaksanaannya sehingga seluruh insan pendidikan Indonesia sama-sama merasakan manfaat dan proses dari kurikulum yang tengah berjalan di negaranya.Anggaran pendidikan yang disia-siakan dalam perancangan hingga pengaplikasian kurikulum baru mungkin dapat dialih-fungsikan untuk pemerataan pendidikan ini.Kalaupun nantinya ada hal-hal yang patut diperbaiki,barangkali dapat dilaksanakan dengan melibatkan guru.Harapannya agar pendidikan Indonesia terus menuju ke arah yang lebih baik lagi.Rasanya dunia pendidikan Indonesia sudah terlalu tua untuk lagi-lagi salah dalam memilih sistem yang akan diterapkan.
Nevia Prima Vera,2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar